Literasi Keluarga Cara Tradisional di Era Digital

pixabay.com
Tak dimungkiri lagi sekarang dunia digital merambah ke segala bidang kehidupan. Kebiasaan orang-orang berubah. Semua serbamudah dan serbainstan. Gaya hidup anak-anak sampai dengan yang tua berubah mengikuti arus zaman. Meskipun demikian, masih ada juga beberapa orang yang menggunakan gaya hidup yang lama. Bisa jadi karena prinsip hidup ataupun kondisi hidup.

Anak-anak “zaman now” sudah fasih menggunakan gawai terutama ponsel pintar. Bahkan mereka lebih cepat paham daripada orang yang memberikannya, yang tak lain adalah orangtuanya sendiri. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan adalah mereka menggunakan gawai itu lebih ke arah produktif atau konsumtif? Edukatif atau nonedukatif?

Di saat anak-anak menggandrungi gawai, berapa banyak buku yang menjadi teman mereka sehari-hari? Menurut data penelitian Central Connecticut State University (CCSU) bertajuk World's Most Literate Nations yang dirilis tahun 2016 lalu, perilaku literasi Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei (Sumber baca DI SINI). Jika hanya mengacu data ini, bisa dikatakan kondisi literasi di negara ini sedang “sakit”. 

Penyakit literasi sebenarnya bisa disembuhkan walaupun cukup sulit. Obatnya adalah dimulai dari keluarga tempat asal seseorang tumbuh. Kesadaran literasi yang rendah sebenarnya bisa disembuhkan walaupun cukup sulit. Obatnya adalah dimulai dari keluarga tempat asal seseorang tumbuh. 

Kesadaran keluarga akan literasi harus ditumbuhkan untuk mewujudkan budaya literasi yang sehat. Keluarga adalah kunci utama literasi. Orang tua menjadi subjek sekaligus objek dalam mewujudkan budaya literasi. Anak-anak harus dikenalkan literasi sejak dini. Di tengah gempuran teknologi digital saat ini, menumbuhkan budaya literasi (khususnya membaca) memang sulit. Namun, semua itu bisa diawali dengan budaya literasi secara tradisional sejak dini, yakni diceritakan dan membaca buku (bukan buku digital).

1. Membacakan Cerita

pixabay.com
Anak-anak suka cerita. Namun, anak balita belum bisa membaca. Mereka perlu dibacakan. Bacaan yang menarik tentunya adalah cerita atau dongeng. Membacakan cerita akan memancing daya imajinasi. Anak akan memproses cerita tersebut menjadi imajinasi. Otomatis otak secara perlahan akan bekerja memvisualisasikan cerita tersebut. Kebiasaan ini akan menstimulasi otak dalam menerjemahkan setiap imajinasi. 

Hanya saja, berapa persen orang tua di zaman sekarang yang mau membacakan anaknya cerita. Teknologi instan nan modern sudah ada. Tinggal cari di “penyedia aplikasi”, sebuah program pendongeng / pencerita akan jalan secara otomatis dengan banyak pilihan menu. Bahkan ada juga boneka yang bisa menggantikan peran orang tua dalam bercerita. Bandung Mawardi, seorang esais, dalam tulisannya di Majalah Basis menyatakan bahwa pengasuhan terhadap anak yang paling penting adalah membacakan buku, bukan menyediakan gawai, boneka pencerita, atau yang lainnya. (Sumber baca  DI SINI )

Jadi, resep utama menumbuhkan literasi sejak usia dini adalah dengan cara tradisional, yakni membacakan buku atau cerita. Hal yang penting lagi adalah menjadi orang tua jangan mudah asal kritik bahwa anak-anak sekarang tidak mau membaca, membuat anak jadi mau baca itu susah, atau bahkan membandingkan dengan anak zaman dulu yang gemar membaca. Orang tua harus menjadi teladan dan mau meluangkan waktunya untuk membacakan buku kepada anaknya. 

2. Sediakan Buku, Bukan Gawai

pixabay.com
Menumbuhkan budaya membaca pada anak balita tidak perlu memakai gawai. Jika sudah cukup usianya nanti, bolehlah berliterasi dengan gawai. Membuat anak suka membaca buku adalah dengan menyediakan buku dan memberi contoh, serta membacakannya. 

Saya sendiri punya anak berusia empat tahun.  Terus terang saja, dia sudah mengenal gawai dan cukup cakap dalam mengoperasikannya. Tentu saja semua itu dalam pengawasan dan durasi Screen on Time yang dibatasi. Namun, kadang untuk membatasinya cukup sulit.

Akhirnya saya punya ide jitu. Ide ini muncul karena teringat pengalaman saya waktu kecil. Dulu saya sangat menggandrungi salah satu majalah anak, yakni Majalah Kuncung. Bukannya tidak suka dengan majalah anak yang lain, tetapi memang adanya hanya majalah itu. Dulu, saya belum sama sekali kenal dengan Bobo, Fantasi, dan sejenisnya. Kenalnya hanya Kuncung yang dibawakan oleh ayah saya dari sekolahnya. 

Semula memang hanya iseng baca-baca. Namun, karena merasa mendapat hiburan saat membaca, maka waktu yang saya tunggu-tunggu saat itu adalah saat ayah saya membawakan Majalah Kuncung. Dari sini bisa diambil hikmah, kebiasaan membaca memang bisa ditumbuhkan dengan adanya fasilitas membaca itu sendiri. Saya pun gemar membaca gara-gara ada majalah anak di rumah.

Berbekal pengalaman di atas, saya langsung mencari majalah anak. Saya spontan membeli sebelas majalah anak. Tidak apalah walaupun semua majalah itu adalah majalah bekas. Hal terpenting adalah masih layak baca, bahkan masih terlihat baru. 

Majalah-majalah itu tidak saya berikan secara langsung kepada anak saya. Namun, saya berikan satu per satu. Saya berikan satu majalah dulu supaya dia lihat-lihat gambarnya. Dia pun merespons dengan mengajukan pertanyaan. Secara tidak langsung dia tertarik dengan apa yang dilihatnya. Di saat itulah peran orang tua hadir. Saya pun membacakan cerita bergambar yang ada di majalah itu. Berawal dari situ, jika saya memberikan majalah, sambutan rasa bahagia terpancar darinya. 

pixabay.com
Dari pengalaman saya di atas, rasanya cukup mudah menanamkan budaya literasi di rumah bagi anak sejak usia dini. Ya, rasanya seperti mudah dan murah (hanya modal majalah bekas). Namun, ternyata tantangan terbesarnya adalah kita harus menyediakan waktu untuk si anak. Ya, yang penting adalah ada waktu untuk membacakannya. 

Saya pernah mencoba memberikan majalah baru (kondisinya tetap bekas) baginya dan membiarkannya untuk membuka-buka sendiri tanpa saya dampingi. Apa responsnya? Pertama tampak senang dan asyik membuka-buka. Lalu muncul respons bertanya dan saya pun menyuruhnya untuk membaca sendiri. Akhirnya, satu isyarat tubuh muncul darinya, yakni rasa “bosan” dan segera meninggalkan bukunya.

Peristiwa itu mengindikasikan bahwa orang tua harus selalu hadir mendampingi anak saat membiasakan budaya membaca sampai anak benar-benar bisa mandiri dalam membudayakan literasi baginya. Ingat, tantangan terbesarnya adalah bisa meluangkan waktu bagi anak kita dalam menumbukan budaya literasi. Akan sangat percuma, jika orang tua sanggup membelikan banyak buku atau majalah, tetapi tidak ada waktu untuk membacakan cerita kepada anak yang masih balita dan belum bisa membaca. 

Ya, dua cara di atas adalah cara tradisional tanpa diembel-embeli teknologi digital ala “zaman now”. Namun, saya yakin dua cara di atas adalah langkah terbaik dari kita untuk menumbuhkan kesadaran berliterasi dalam keluarga. Cara itu bisa dilakukan sampai anak-anak bisa membaca secara mandiri. Sesudah itu biarkan mereka menemukan caranya sendiri dalam berliterasi, entah itu menggunakan buku cetak atau buku digital.

Budaya Literasi Itu Tumbuh dari Rumah


Ibarat sebuah tanaman, budaya literasi akan tumbuh dari pembiasaan di rumah. Tanaman akan tumbuh subur jika ditanam di media dan lingkungan yang baik, mulai dari kecocokan tanah, air, pupuk, suhu, cuaca, iklim, dan lain-lain. Begitu pula literasi, budaya di rumah yang menunjang literasi harus dihidupkan.

Banyak orang tua yang hanya mengandalkan sekolah untuk mengembangkan literasi anak. Dalam masyarakat Jawa ada ungkapan “pasrah bongkokan” saat menyekolahkan anak. “Pasrah bongkokan” diartikan sebagai pasrah semuanya. Artinya, orang tua menyerahkan segala bentuk pendidikan anaknya kepada sekolah. Dalam hal ini ada baiknya juga jika dengan “pasrah bongkokan” orang tua berarti menyetujui segala sistem pendidikan di sekolah itu tanpa mengabaikan pendidikan di keluarga. Hanya saja yang menjadi masalah adalah jika “pasrah bongkokan” diartikan sebagai segala bentuk pendidikan diserahkan ke sekolah saja. Itu bahaya.

Literasi di sekolah hanya sebatas pengembangan karakter berliterasi yang sudah dibentuk di rumah. Walaupun memiliki segudang fasilitas dalam literasi, sebuah sekolah akan kesulitan mengembangkan budaya literasi bagi anak yang tidak memiliki minat literasi. Ditambah lagi jika anak tersebut sama sekali tidak mengenal pembiasaan literasi di rumah, seperti yang sudah saya ulas di bagian awal dalam tulisan ini.

Ibaratnya tanaman, seorang anak yang sudah dibiasakan literasi di rumah adalah benih unggul. Jika benih unggul tersebut mendapat tempat yang tepat, benih itu akan tumbuh subur dan menghasilkan panenan yang berkualitas. Begitu pula jika ada anak yang sudah biasa dibiasakan literasi di rumah, kemudian anak tersebut mengenyam pendidikan di sekolah yang sangat mendukung literasi, maka anak tersebut bisa mengembangkan dirinya secara maksimal dan menjadi Sumber Daya Manusia yang unggul. 

Gerakan Satu Minggu Satu Buku


Pada tahun 2011, saya pernah membuat tulisan berisi opini pendek di blog ini dengan judul “Gerakan Satu Minggu Satu Buku” (Baca DI SINI). Tulisan pendek yang hanya terdiri atas dua paragraf itu mempunyai tujuan untuk menggerakkan pembaca blog agar bisa menyempatkan membaca satu buku dalam satu minggu. Hal ini terinspirasi dari beberapa gerakan seperti “Satu Hari 1 Ayat” yang bertujuan untuk bisa menghafalkan satu ayat dalam satu satu bagi orang yang beragama Islam. Ada juga gerakan “Satu Hari 1 Juz” yang bertujuan untuk bisa membaca Alquran sebanyak satu juz dalam waktu sehari.

Berdasarkan penelusuran jejak digital,  kini ada gerakan yang dinamakan One Week One Book (Sumber baca DI SINI). Gerakan ini pun sudah ada komunitasnya. Setiap anggota harus membaca minimal satu buku dalam satu minggu. Ulasan tentang buku yang sudah dibaca dan isinya juga diharuskan diposting di media sosial sebagai bentuk pertanggungjawaban. Adanya komunitas dan gerakan ini tentunya juga bisa mendorong geliat literasi di masyarakat. Apalagi sekarang, berita hoaks mengancam di segala lini media sosial. Dengan cara banyak membaca, tentunya kita semakin kritis dalam memfilter informasi yang kita terima. 

Pada tahun 2017, ada pula gerakan kampanye “Gerakan Baca 1 Minggu 1 Buku” yang dilaksanakan di acara Car Free Day di Bandung (Sumber baca DI SINI). Gerakan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan minat baca di masyarakat. Pasalnya, minat baca buku masyarakat Indonesia secara umum masih sangat rendah. Dengan adanya gerakan kampanye ini, bisa menjadi pengingat sekaligus ajakan untuk rajin baca buku sehingga bisa menumbuhkan generasi yang terbiasa bersahabat dengan buku.

Gerakan satu minggu satu buku bisa ditanamkan sejak dini di rumah sebagai bentuk praktik pembiasaan literasi yang baik. Hal terpenting dalam melaksanakan gerakan ini adalah tidak adanya alasan memaksa. Jika anak merasa terpaksa, justru gerakan ini bisa menjadi boomerang bagi minat literasinya. Gerakan ini bisa dimulai dengan buku-buku yang tipis terlebih dahulu. Setelah mampu menyelesaikan satu buku dalam satu minggu, berikan apresiasi dan pujian untuk anak-anak sehingga mereka dihargai dan bersemangat lagi membaca buku selanjutnya. Selamat berliterasi.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga


Soal Try Out USBN 2019 Bahasa Indonesia


Dalam postingan kali ini DapurImajinasi akan memberikan Soal Try Out USBN 2019 Bahasa Indonesia yang dapat digunakan sebagai bekal persiapan menjelang USBN Utama. USBN Utama akan dilaksanakan pada hari Senin - Rabu, 22 - 24 April 2019. Soal Try Out USBN 2019 Bahasa Indonesia ini bisa dijadikan salah satu latihan dalam menghadapi USBN Utama.

Kunci sukses USBN terletak pada persiapan yang dilakukan oleh para peserta. Jika persiapannya matang, kesuksesan dalam mengerjakan USBN tentu sudah menjadi harapan nyata. Soal Try Out USBN 2019 Bahasa Indonesia ini bisa untuk persiapan secara mandiri karena di dalamnya sudah ada kunci jawaban.

Untuk mengunduh Soal Try Out USBN 2019 Bahasa Indonesia bisa dengan membuka tautan di bawah ini.


Demikian postingan DapurImajinasi tentang Soal Try Out USBN 2019 Bahasa Indonesia. Mungkin ada beberapa pengunjung blog ini yang merasa tertipu karena tidak mendapatkan soal sesuai judul postingan. Hal ini terjadi karena mereka tidak membuka tautan soal yang sudah disediakan. Jika admin DapurImajinasi harus copy paste soal seluruhnya, tidak terlalu efektif untuk dibaca. Jadi, baca dengan detail isi postingan supaya mendapat soal yang diinginkan. Terima kasih.


Soal Latihan USBN 2019 Bahasa Indonesia dan Kunci Jawaban

Soal latihan USBN 2019 bahasa Indonesia dan kunci jawaban adalah salah satu hal yang paling sering dicari menjelang USBN 2019 ini. Persiapan demi persiapan perlu dilakukan agar nanti hasil USBN 2019 bisa maksimal. Kali ini DapurImajinasi akan membagikan satu soal latihan USBN 2019  mata pelajaran Bahasa Indonesia jenjang kelas VI sekolah dasar. Soal latihan USBN 2019 bahasa Indonesia ini sudah sesuai kisi-kisi USBN 2019. Soal terdiri atas pilihan ganda dan soal esai atau uraian. 

Soal latihan USBN 2019 bahasa Indonesia dapat dijadikan sarana latihan siswa kelas VI yang akan menempuh USBN 2019. Semakin banyak latihan, mereka akan semakin banyak pengetahuan dari materi yang sesuai kisi-kisi. Nah, soal latihan USBN 2019 bahasa Indonesia dan kunci jawaban dapat diunduh melalui tautan di bawah ini.


Nah, dengan mengunduh soal di atas, kini Sahabat DapurImajinasi dapat berlatih soal-soal bahasa Indonesia untuk persiapan USBN 2019. Semoga soal-soal tersebut membantu untuk mendapatkan nilai maksimal. Namun, tidak hanya usaha belajar saja, selalu berdoa dan tingkatkan ibadah supaya hasilnya lebih maksimal lagi.

Contoh Video Mendongeng FL2N 2019




Kali ini DapurImajinasi akan membagikan contoh video mendongeng FL2N 2019. Festival dan Lomba Literasi Nasional (FL2N) adalah kegiatan yang diadakan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan ini meliputi lima bidang, yakni lomba menulis cerita pendek, lomba baca puisi, lomba cipta pantun, lomba cipta syair, dan lomba mendongeng.

Dalam kata pengantarnya, Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Khamim mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan sarana bagi peserta didik untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Selain itu, kegiatan ini dapat digunakan untuk menyalurkan bakat dan kemampuan yang mereka miliki di bidang sastra. Kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi peserta didik untuk menggemari sastra sejak dini dan dapat memunculkan kreativitas-kreativitas baru di bidang sastra.

Berikut kami bagikan petunjuk teknis lomba dan contoh video mendongeng FL2N 2019

Lomba Mendongeng FL2N 2019

Mendongeng adalah menceritakan suatu kisah dengan tema tertentu yang diambil dari berbagai sumber. 

1 Kriteria Penilaian
a. Kesesuaian isi dengan tema: 
b. Penyampaian isi dongeng dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar; 
c. Penjiwaan atas terna, isi, dan pesan; 
d. Penampilan (ekspresi. penjiwaan. intonasi) dan kreativitas (yang mendukung 
pesan dongeng dengan teknik gerak, suara, visual, properti atau lainnya).

2. Persyaratan Karya
a. Dongeng diutamakan mengandung warna lokal masing-masing daerah
b. Jika karya yang diikutsertakan diambil dari buku dongeng yang telah diterbitkan, sumber harus dicantumkan (buku, pengarang, dan sebagainya)
c. Peserta dibebaskan dalam berekspresi (boleh menggunakan alat peraga untuk mendukung penampilan ataupun tidak)
d. Karya yang diikutsertakan merupakan karya rekaman baru (bukan saat sedang mengikuti lomba) dan belum pernah dipublikasikan serta diikutkan di lomba sejenis di tingkat apa pun. 
e. Karya berupa rekaman asli, bukan dalam bentuk yang sudah disunting (baik visual maupun audio). 
f. Durasi rekaman video 5—10 menit. Durasi penampilan pada saat final maksimal 7 menit.
g. Penyajian dalam tahap rekaman didahului dengan perkenalan singkat nama dan sekolah, kemudian langsung mendongeng. 
h. Karya berbentuk video diunggah di Youtube dengan judul: FLS 2019 Lomba Mendongeng (nama) (asal sekolah )
Contoh: FLS 2019 Lomba Mendongeng Andi Yudha SDN 01 Jakarta

i. Karya yang diunggah dalam Youtube tersebut, alamat tautannya disalin dan direkatkan ke http://ditpsd.kemdikbud.go.id/beserta-d1dikiregistration-f12n 
j. Penjurian (final);
1. Peserta membawakan dongeng baru dengan subterma yang akan disampaikan saat pengumuman finalis.
2. Penjurian langsung oleh tiga juri.
3. Penanda durasi penjurianmenggunakan lampu penanda hijau (durasi mulai), kuning (2 menit terakhir), dan merah (durasi habis). 
4. Penonton diperkenankan masuk area panggung final untuk menonton finalis  dengan mematuhi tata tertib yang telah ditentukan. Tata tertib penonton disampaikan saat penjelasan teknis sehari sebelum pelaksanaan lomba.

Berikut contoh video mendongeng FL2N 2019.


1. Contoh Video Mendongeng FL2N 2019 Asal Mula Huruf Jawa oleh Daffa Ahmad Ghafari




2. Contoh Video Mendongeng FL2N 2019 Timun Emas oleh Khansa Labibatus Sholihah



3. Contoh Video Mendongeng FL2N 2019 Asal Mula Huruf Jawa oleh Ghozy Yudanta Ihsan



4. Contoh Video Mendongeng FL2N 2019 Timun Emas oleh Quinsha Dini Larasati



5. Contoh Video Mendongeng FL2N 2019 Asal Mula Huruf Jawa oleh Dzikrurat Kawruh N.



6. Contoh Video Mendongeng FL2N 2019 Timun Emas oleh Balqis Azka Nova



10 Soal Menunjukkan Kesalahan Penggunaan Tanda Baca


Menunjukkan kesalahan penggunaan tanda baca adalah salah satu kisi-kisi materi yang akan dimunculkan dalam USBN 2019. Pada dasarnya tanda baca adalah salah satu dari ejaan dalam bahasa Indonesia. Hanya saja, dalam kisi-kisi USBN kali ini menunjukkan kesalahan tanda baca tidak dimasukkan ke dalam kisi-kisi menunjukkan kesalahan ejaan. Materi ini berdiri sendiri sehingga justru memudahkan dalam mempelajarinya karena sudah pasti tentang kesalahan tanda baca.

Tanda baca dalam bahasa Indonesia ada beberapa jenis, mulai dari tanda titik, koma, titik dua, garis miring, petik, dan lain-lain. Semua tanda baca tersebut dapat dipelajari di Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Sekarang PUEBI baik yang cetak maupun yang digital sudah banyak tersedia. Jika menginginkan PUEBI digital bisa unduh langsung di playstore atau unduh versi PDF-nya DI SINI.

Berikut kami bagikan 10 soal menunjukkan kesalahan penggunaan tanda baca.

1. Wah! kau memang hebat, Ndra!
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
a. penggunaan tanda seru setelah “Ndra”
b. pengunaan tanda koma setelah kata “hebat”
c. penggunaan tanda seru setelah kata “wah”
d. tidak menggunakan tanda petik dua

Kunci jawaban: C, tanda seru setelah kata “wah” salah karena seharusnya diganti dengan tanda koma

2. Ayahku bernama Seto Martono, S.Pd. Beliau adalah seorang guru. Beliau lahir di Pekanbaru, 2 Februari 1979. Sekarang beliau tinggal di Jalan Makassar Nomor 3 (Pekanbaru).
Kesalahan penggunaan tanda baca terdapat di kalimat ….
a. pertama
b. kedua
c. ketiga
d. keempat

Kunci jawaban: D, kalimat keempat mengandung tanda baca yang salah, yakni penggunaan tanda kurung.

3. Ibu membeli buah-buahan, seperti : apel, melon, dan jeruk.
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
a. tanda koma sebelum kata “seperti”
b. tanda titik dua setelah kata “seperti”
c. tanda koma sebelum kata “dan”
d. tanda titik di akhir kalimat

Kunci jawaban: B, setelah kata “seperti” tidak perlu menggunakan tanda titik dua.

4. Kesalahan penggunaan tanda baca terdapat di kalimat ….
a. Namun, mereka selalu semangat dalam menghadapi rintangan.
b. Dia ingin makan, tetapi gusinya sakit.
c. Tutuplah pintu itu!
d. Wah! dia memang sangat hebat.

Kunci jawaban: D, setelah kata “wah” seharusnya diberi tanda koma, bukan tanda seru dan di akhir kalimat diberi tanda seru.


5. Harga telur ayam sedang naik. Sekarang harganya mencapai Rp28.000,- per kilogram. Sementara itu, harga kebutuhan pokok lain justru harganya turun. Cabai, gula, dan beras adalah contoh barang kebutuhan pokok yang turun harganya.
Kesalahan penggunaan tanda baca terdapat di kalimat ….
a. pertama
b. kedua
c. ketiga
d. keempat

Kunci jawaban: B, kesalahan penggunaan tanda baca terdapat di kalimat kedua, yakni penulisan nominal rupiah. Penulisan yang benar seharusnya Rp28.000,00.


6. Yth:
Drs. Saptono, S.Pd
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
a. penggunaan tanda titik dua dan tidak ada tanda titik di akhir gelar belakang nama
b. penggunaan tanda titik dua dan tanda titik setelah gelar di depan nama
c. penggunaan tanda koma setelah nama dan tanda titik di tengah gelar di belakang nama
d. penggunaan tanda koma dan tidak ada tanda titik di akhir gelar belakang nama

Kunci jawaban: A, penulisan yang benar seharusnya
Yth.
Drs. Saptono, S.Pd.

7. Puisi “Bulan” terdapat di buku kumpulan puisi “Pada Malam”.
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
a. tanda petik dua yang mengapit kata “Bulan”
b. tanda petik dua yang mengapit “Pada Malam”
c. tanda titik di akhir kalimat
d. tanda petik dua setelah kata “Malam”

Kunci jawaban: B, judul buku puisi hanya ditulis miring tanpa tanda petik.


8. Nomor surat itu bukan seperti yang ditulis sebelumnya, melainkan ini 004/SDN01/IX-2019.
Kesalahan penggunaan tanda baca dalam kalimat di atas adalah ….
a. koma
b. garis miring
c. tanda hubung
d. titik

Kunci jawaban: c, tanda hubung seharusnya diganti dengan tanda garis miring.

9. “Aku tidak tahu mengenai masalah itu,” katanya. Namun, aku tahu sebenarnya ia sedang berbohong. Mungkin dia terpaksa menutupi masalah itu, karena ingin membela saudaranya. Meskipun demikian, sebenarnya ia tidak perlu berbohong kepadaku.
Kesalahan penggunaan tanda baca terdapat di kalimat ….
a. pertama
b. kedua
c. ketiga
d. keempat

Kunci jawaban: C, kalimat ketiga tidak perlu menggunakan tanda koma.

10. “Siapa yang mendapat nilai 100, Pak!
Tanda baca yang salah dalam kalimat di atas adalah ….
a. tanda petik dua di awal kalimat dan tanda seru
b. tanda petik dua di awal kalimat dan tanda koma
c. tanda koma dan tanda seru
d. tanda seru di akhir kalimat

Kunci jawaban: A, penulisan yang benar adalah Siapa yang mendapat nilai 100, Pak?